Contoh Laporan PKL di BPTP Gorontalo

Posted in Uncategorized

Laporan PKL di BPTP Gorontalo

Hay teman-teman….!!! Gimana kabar kalian Siswa-siswa SMK Pertanian????? Baik tochh????

nahhh…. yang menyulitkan di saat akhir PKL adalah Penyusunan Laporan PKL di Blogg ini saya akan memberikan bantuan kepada teman-teman SMK Pertanian yang melaksanakan PKL di BPTP Gorontalo yaitu FILE contoh laporan. contoh laporan ini saya kutip dari salah satu siswa Peserta PKL dari SMKN I Wonosari tahun 2013 yang melaksanakan PKL di BPTP Gorontalo atas nama BAMBANG HARIYANTO.. kenal tochhhh???

Semoga Data Ini dapat bermanfaat bagi teman-teman…. makacihhhhhh……..!!

BY : Agus Supu

ssS

BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN

PROVINSI GORONTALO

 

Sejarah BPTP

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Pertanian memiliki tupoksi melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian spesifik lokasi. Dalam pelaksanannya BPTP Gorontalo mendukung Program Strategis Kementerian Pertanian dan Program Pembangunan Pertanian Provinsi Gorontalo. BPTP Gorontalo pada awalnya adalah sebagai Satuan Kerja Pengkajian Teknologi Pertanian  berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/Kpts/KU.610/2/2003 tanggal 5 Pebruari 2003 dan SPAAP Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 1/031/A.21/01/2003 tanggal 1 Januari 2003, sebagai respon Depertemen Pertanian untuk mendukung pembangunan pertanian atas terbentuknya propinsi Gorontalo.  Sejak tanggal 1 Maret 2006 berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian RI No. 16/Permentan/ OT.140/3/2006, berubah dari Satuan Kerja (Satker) menjadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP).Tugas pokok BPTP adalah melaksanakan kegiatan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi.

Dasar Pembentukan BPTP Gorontalo :

  • Permentan No. 16/Permentan/ OT.140/ 3/2006 tanggal 16 Maret 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.
  • SK Menteri Pertanian No. 394/Kpts/ Kp.330/6/2006, bulan Juni 2006 tentang Penunjukan Kepala BPTP Gorontalo.

Struktur Organisasi BPTP Gorontalo sebagai berikut :

Visi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo   merupakan bagian integral dari visi pertanian dan pedesaan 2020; ruh, visi, dan misi pembangunan pertanian 2010 – 2014; visi dan misi Badan Litbang Pertanian 2010 – 2014; serta visi dan misi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) yang dirumuskan untuk menggali dan menyampaikan persepsi yang sama mengenai masa depan pembangunan pertanian dan pedesaan. Persepsi tersebut diwujudkan dalam bentuk komitmen jajaran BPTPGorontalo   dalam merealisasikan tujuannnya. Oleh karena itu, dalam mengemban tugas melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spsesifik lokasi di Provinsi Gorontalo, maka BPTP Gorontalo   harus mempunyai visi yang bersifat futuristik dan mampu menjadi akselerator kegiatan penelitian pengkajian dan perakitan teknologi pertanian spesifik lokasi.  Berdasarkan hal tersebut, BPTP Gorontalo menetapkan Visi yaitu  “Menjadi lembaga pengkajian  dan pengembangan inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi yang unggul dan berkelanjutan dalam mendukung program strategis Kementrian Pertanian dan pembangunan agropolitan Provinsi Gorontalo”.Sedangkan misi BPTP Gorontalo   merupakan pernyataan mengenai garis besarkiprah utama BPTP dalam mewujudkan visi di tersebut. Untuk itu, BPTP Gorontalo menetapkan Misi sebagai berikut :

  1. Melaksanakan pengkajian, pengembangan, penyebarluasan dan pendayagunaan inovasi pertanian spesifk lokasi yang berorietasi agribisnis.
  2. Memperkuat keterpaduan peneliti/pengkaji, penyuluh dan stakeholder lainnya dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani.
  3. Melaksanakan dan mengembangkan program strategis Kementerian Pertanian dan  Agropolitan Propinsi Gorontalo  .

Tujuan dan Sasaran

Sesuai mandat Badan Litbang Pertanian kepada BPTP Gorontalo untuk melakukan pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian spesifik lokasi maka tujuan BPTP Gorontalo adalah:

  1. Meningkatkan ketersediaan inovasi pertanian unggulan spesifik agroekosistem.
  2. Meningkatkan penyebarluasan inovasi pertanian unggulan spesifik agroekosistem.
  3. Meningkatkan kapasitas dan kompetensi pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian unggulan spesifik agroekosistem.

Sasaran :

  1. Tersedianya inovasi pertanian unggulan.
  2. Meningkatnya penyebarluasan (diseminasi) inovasi pertanian.
  3. Meningkatnya kerjasama nasional dan internasional (di bidang pengkajian, diseminasi dan pendayagunaan inovasi pertanian).
  4. Meningkatnya sinergi operasional pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian.
  5. Meningkatnya manajemen pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian.

Kebijakan, Program, dan Kegiatan-Kegiatan BPTP Gorontalo

Mengacu pada kebijakan umum penelitian dan pengembangan pertanian yang telah dirumuskan dalam Renstra Badan Litbang Pertanian 2010 – 2014, maka BPTP Gorontalomenetapkan kebijakan pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian sebagai berikut:

  1.   1.                Meningkatkan fokus kegiatan dan capaian hasil pengkajian dan pengembangan berorientasi pasar/preferensi konsumen berdasarkan pada potensi sumberdaya wilayah.
  2.   2.                Meningkatkan kuantitas/kualitas iinformasi, media dan lembaga diseminasi inovasi pertanian.
  3.   3.                Meningkatkan kapabilitas manajemen pengkajian dan diseminasi untuk memperluas jejaring kerjasama.
  4.   4.                Meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian.
  5.   5.                Meningkatkan efektivitas manajemen institusi.

 

Dalam menjabarkan tugas pokok dan fungsinya, program BPTP Gorontalo   yang dilaksanakan dalam kurun waktu 2010 – 2014 dengan satu program yaitu: Program Pengkajian dan Percepatan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian.Untuk mengimplementasikan mandatnya, selanjutnya program tersebut dijabarkan dalam beberapa kegiatan utama dan indikator, yaitu :

  1. Pengkajian inovasi pertanian unggulan spesifik agroekosistem, dengan indikator utama jumlah inovasi pertanian.
  2. Penyediaan dan penyebarluasan inovasi pertanian, dengan indikator utama jumlah jenis materi inovasi.
  3. Pendampingan program strategis pembangunan pertanian wilayah, dengan indikator utama jumlah program strategis pembangunan pertanian wilayah yang mencapai sasaran.
  4. Advokasi teknis dan kebijakan operasional pembangunan pertanian wilayah, regional dan nasional, dengan indikator utama jumlah rekomendasi.
  5. Pengembangan kerjasama nasional dan internasional dalam pengkajian dan pendayagunaan inovasi pertanian, dengan indikator utama jumlah laporan kerjasama pengkajian, pengembangan dan pemanfaatan inovasi pertanian.
  6. Koordinasi dan sinkronisasi operasional pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian, dengan indikator utama jumlah sinergi operasional pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian.
  7. Penyediaan petunjuk pelaksanaan (juklak) /petunjuk teknis (juknis) pengkajian dan pengembangan inovasi pertanian, dengan indikator utama jumlah juklak/juknis.
  8. Penguatan manajemen perencanaan dan evaluasi kegiatan serta adminstrasi instituís, dengan indikator utama jumlah dokumen  perencanaan dan evaluasi kegiatan serta administrasi keuangan, kepegawaian dan sarana prasarana.
  9. Peningkatan kualitas manajemen institusi, dengan indikator utama jumlah dokumen pedoman penerapan ISO 9001:2008
  10. Pengembangan kompetensi SDM, dengan indikator utama jumlah SDM yang meningkat kompetensinya.
  11. Peningkatan pengelolaan laboratorium, dengan indikator utama jumlah laboratorium yang produktif.
  12. Peningkatan pengelolaan kebun percobaan, dengan indikator utama jumlah kebun percobaan yang produktif.
  13. Peningkatan pengelolaan website dan database, dengan indikator utama Jumlah website dan database yang ter-update secara berkelanjutan.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya , BPTP Gorontalo didukung dengan sarana prasarana antara lain: Gedung Kantor, 1 Gedung Peneliti, 1 Gedung Perpustakaan Digital, 1 Gedung Aula, 1 Gudang benih UPBS, 1 Guest house, rumah dinas jabatan kepala balai dan 13 rumah dinas (sementara). Jumlah SDM sampai tahun 2011 berjumlah 46 orang pegawai, dimana 9 orang fungsional peneliti, 12 orang peneliti non fungsional, 3 orang penyuluh non fungsional, 6 orang teknisi lapangan, 10 orang administrasi dan 6 orang tenaga honorer/kontak bagian rumah tangga.Jumlah pegawai sampai Desember 2011 sebagai berikut:

No. Bidang/Seksi/Kelji 

Pendidikan

Jumlah

S3

S2

S1

SM/

D3

SLTA

SLTP/

SD

1

Sub Bagian Tata Usaha

3

1

10

2

16

2

KSPP

2

6

8

3

Kelji Budidaya dan Pasca Panen

5

10

15

4

Kelji Sumber Daya dan Sosek

4

3

7

Jumlah

9

18

1

16

2

46

Keterangan : 2 honorer, 2 harian kontrak, 2 satminkal, 1 titipan, 3 staf S3 dan 2 Staf S2

Kegiatan yang telah dilakukan oleh BPTP Gorontalo semenjak berdirinya (2003 – 2011) dalam mendukung program pembangunan pertanian di Provinsi Gorontalo antara lain :

  1. Peta AEZ Kabupaten Bone Bolango dan Gorontalo Utara, yang melengkapi peta AEZ sebelumnya (Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Boalemo) yang dijadikan salah satu acuan dalam penyusunan pewilayahan komoditas.
  2. Penyusunan rekomendasi pemupukan padi sawah sebanyak 187 desa di 19 kecamatan, sedangkan untuk jagung sebanyak 184 desa di 18 kecamatan sepropinsi Gorontalo dan menjadi acuan dalamrekomendasi pemupukan spesifik lokasi padi dan jagung di Propinsi Gorontalo.
  3. Pengembangan teknologi integrasi ternak sapi-jagung.Dampak pengkajian tercermin pada antusiasme para petani/peternak di sekitar lokasi pengkajian untuk ikut-serta sebagai petani kooperator. Berdasarkan wawancara terhadap penerimaaan usahatani integrasi tanaman – ternak dengan B/C ratio di atas 1,3 dengan nilai kualitatif positif terhadap dayadukung lahan (keawetan produktivitas lahan)  sehingga kegiatan ini dapat berdampak  secara efektif bagi pendapatan dan kesejahteraan petani/peternak
  4. Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Primatani). Keberhasilan suatu kegiatan diukur dari manfaat serta dampak yang ditimbulkan sesudah kegiatan tersebut. Sejumlah manfaat signifikan dari Primatani Biyonga yaitu diadopsinya Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah khususnya penggunaan varietas-varietas unggul baru berlabel serta sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1. Keberhasilan lain adalah ditetapkannya Biyonga sebagai wilayah / desa inovasi teknologi padi sawah irigasi sehingga dijadikan tempat show window padi sawah, studi banding maupun praktek lapang. Keberhasilan dalam aspek budidaya tersebut ditunjang oleh aspek penyediaan benih berkualitas berupa kemudahan perolehan benih melalui kelompok penangkar yang dibentuk sebagai salah satu seksi usaha dalam Gapoktan. Kelembagaan kelompok penangkar tersebut telah berkembang dengan tidak hanya menjadi pemasok kebutuhan benih di Biyonga dan diluar desa. Penangkar tersebut juga telah membentuk sub kelompok binaan penangkar diluar Biyonga yang bertujuan memperluas jaringan pemasaran benih.
  5. Primatrans, merupakan duplikasi dari Primatani yang dikelola oleh transmigrasi dan didampingi oleh BPTP. Pendampingan dan pengembangan kelembagaan, berdampak makin seringnya diadakan pertemuan diantara warga sehingga mereka berdiskusi, tukar pendapat dan berinteraksi satu sama lain. Peningkatan pengetahuan petani mengenai budidaya jagung, hortikultura, kakao dan buah-buahan yang diperoleh baik dari pelatihan, pendampingan, diskusi maupun melalui buku yang disediakan di klinik agribisnis. Hasil evaluasi pendapatan transmigran mulai mengalami peningkatan yang semula memiliki pendapatan Rp 9.844.499/KK/tahun menjadi Rp. 12. 626.710/KK/tahun. Akses petani terhadap saprodi semakin mudah dengan didirikannya koperasi “Prima Trans”.
    1. Klinik Teknologi Pertanian di Desa Puncak, Kecamatan Pulubala, Kab. Gorontalo. Setelah pelaksanaan kegiatan Klittan, hingga saat ini sistem pengelolaan usahatani jagung di Desa Puncak sudah diwarnai oleh penerapan teknologi spesifik lokasi yang semakin baik dan telah dilaksanakan secara terpola dari musim ke musim.
    2. Penyebaran varietas unggul baru padi sawah (VUB).Pada tahun 2007-2008 dilakukan penangkaran varietas unggul Mekongga di lokasi Primatani, dalam perkembangannya hingga tahun 2009 diperkirakan telah ditanam pada 15-25% dari luas pertanaman padi sawah di Propinsi Gorontalo. Varietas Inpari-3 dan inpari-4 telah berkembang melalui jalur benih antar lapang dengan sistem pertukaran hasil gabah dengan benih sebanyak 19 titik dengan luas 18,3 ha untuk varietas Inpari-3 melalui penangkar AmrullahHasiru di Desa Lamahu, Kabupaten Bone Bolango dan penangkar Sura Adam I Desa Iloheluma, Tilongkabila, Kabupaten BoneBolango dan 15 titik dengan luas 5,35 ha untuk varietas Inpari-4 melalui penangkar Umar Latekka di Desa Toluwaya, Bulango Timur, Kabupaten Bone Bolango. Sebanyak 723 kg benih Inpari-3 kelas SS pada 43 lokasi dengan luas 44,4 ha dan 162 kg benih Inpari-4 pada 72 lokasi dengan luas 7,7 ha menyebar sekabupaten/kota Gorontalo melalui BPTP Gorontalo.
    3. Gelar Teknologi Hortikultura. Gelar Teknologi ini dikunjungi oleh beberapa stakeholder baik pemda propinsi, kunjungan staf ahli menteri, serta menjadi tempat praktek siswa SMK Pertanian. Sebagai dampak dari kegiatan Gelar Teknologi Hortikultura terutama adalah semakin terperhatikannya pengembangan usaha hortikultura yang di kawasan ini dengan menetapkan Desa Permata sebagai Kawasan Hortikultura.
    4. Penyebarluasan juknis, leaflet, dan poster teknologi pertanian keseluruh BPP dan kepada sekitar 300 PPL di Propinsi Gorontalo. Penyebaran buku leaflet baik kepada BPP, penyuluh, dan petani menyabkan banyak animo petani ataupun para PPL untuk berkomunikasi langsung dengan BPTP, hal ini tercermin dari banyaknya permintaan pelatihan atau memberi materi pada acara pelatiha yang dilaksanakan pada kegiatan FMA di tingkat petani.Disamping itu penyebaran poster Inpari-3 menyebabkan banyak pemintaan akan benih Inpari-3, sehingga pada musim tanam 2009 dan 2010 sudah tersebar keberbagai lokasi di Propinsi Gorontalo. Penyebaran poster sistem tanam legowo juga sangat bermanfaat dalam mempercepat adopsi teknologi pada pelaksanaan SPTT padi. Pada 2011, Perbanyakan dan distribusi materi diseminasi sebanyak 500 eksemplar booklet (5 judul); 2000 eksemplar poster (4 judul) dan 1000 eksemplar leaflet (2 judul). Semua cetakan  tersebut disalurkan ke seluruh BP4K dan BP3K se-Provinsi Gorontalo
    5. Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (UPPTIP) atau Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usahatani melalui pemberdayaan dalam mengakses informasi, teknologi, modal dan sarana produksi untuk mengembangkan usaha agribisnis dan kemitraan dengan sektor swasta secara optimal dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga pelaku usahatani secara berkelanjutan. BPTP melakukan pendampingan terhadap kelompok tani FMA di 4 Kabupaten pelaksana FEATI (Gorontalo, Bone Bolango, Boalemo dan Pohuwato) antara lain Narasumber pelatihan penyuluh, Pemateri pelatihan FMA, Penyebaran Materi-materi Teknologi, Demplot Teknologi di 4 Kabupaten.
    6. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)

Tujuan pelaksanaan kegiatan PUAP adalah untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja diperdesaan, meningkatkan kemampuan pelaku usaha agribisnis, memberdayakan kelembagaan petani dan ekonomi perdesaan dan meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani menjadi mitra lembaga keuangan.Setiap gapoktan/desa mendapat bantuan modal sebesar Rp.100 juta.Jumah desa yang mendapatkan Program PUAP tahun 2008 sebanyak 132 desa, tahun 2009 sebanyak 113 Desa, dan 2010 sebanyak 91 desa meliputi kabupaten Gorontalo, Pohuwato, Bone Bolango, Gorontalo Utara,  Boalemo dan Kota Gorontalo. Tahun 2010 Gapoktan Kota Gorontalo menjadi juara I PUAP tingkat nasional.

  1. Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Padi dan Jagung di Kab. Bone Bolango, Kab. Gorontalo, Kab. Gorontalo Utara, Kab. Pohuwato, Kab. Boalemo dan Kota Gorontalo. Program SL-PTT ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani.Model pendampingan BPTP pada pelaksanaanSL-PTT di Provinsi Gorontalo antara lain melalui Display Varietas Unggul Baru, Penyebaran Materi Teknologi, Narasumber Pelatihan Pemandu Lapang/Penyuluh dan Narasumber pelaksanaan SL-PTT, Demfarm PTT Padi 5 ha tiap Kabupaten sebanyak 60% dari unit SL-PTT di Gorontalo. Produktivitas VUB padi pada kegiatan demfarm dan display di 6 kabupaten/kota dapat dilihat pada Tabel berikut:

 

No

 

Varietas

Produktivitas (t/ha)

 

Keterangan

Padi

Jagung

1

Inpari 3

5,2 – 7,3

Demfarm

2

Inpari 4

5,2 – 9,0

Demfarm

3

Inpari 6

5,6 – 8,1

Demfarm

4

Inpari 10

6,2 – 8,0

Demfarm

5

Inpari 13

6,3 – 9,2

Demfarm

6

Inpari 2

7

Inpari 3

5,7

Display

8

Inpari 4

6,8

Display

9

Inpari 6

5,6

Display

10

Inpari 7

7,8

Display

11

Inpari 8

7,8

Display

12

Inpari 9

7,6

Display

13

Inpari 10

7,0

Display

14

Inpari 11

5,9

Display

15

Inpari 13

7,6

Display

16

Bima-3

8,2

Demfarm

17

Bisi-2

7,4

Demfarm
  1. Dari berbagai kegiatan diseminasi PTT Padi sawah telah tersebar komponen teknologi PTT khususnya varietas unggul baru hasil Badan Litbang Peranian sebagai berikut :
No

Jenis Tanaman (Varietas)

Kota Gorontalo (Ha)

Kab. Gorontalo (Ha)

Kab. Boalemo (Ha)

Kab. Pohuwato (Ha)

Kab. Bone Bolango (Ha)

Kab. Gorontalo Utara (Ha)

Jumlah

(Ha)

1 Bondoyudo

71,20

36,00

107,20

2 Cibogo

96,80

16,87

215,60

76,50

405,77

3 Cigeulis

111,60

1.061,77

140,00

112,65

90,72

57,50

1.574,24

4 Ciherang

310,50

3.311,20

1.648,00

934,38

60,91

157,50

6.422,49

5 Ciliwung

1.048,00

1.048,00

6 Cimelati

43,00

43,00

7 Cisantana

6,00

6,00

8 Inpari 1

26

15

41

9 Inpari 3

55

100

17

311

40

17

540

10 Inpari 4

70

6

207

134

417

11 Inpari 6

10

20

17

47

12 Inpari 8

26

26

13 Inpari 9

26

15

41

14 Inpari 10

22

153

175

15 IR 64

1,80

7,30

275,00

475,45

26,10

785,65

16 Luk Ulo

20,00

48,00

68,00

17 Mekongga

202,00

6.553,78

982,00

394,75

96,00

63,00

8.291,53

18 Tukad Balian

154,60

25,00

179,60

19 Way Apo

8,61

53,00

202,45

64,00

328,06

JUMLAH

777.7

11.406,73

3.357

4.103,85

313.73

586.5

20.546,54

% VUB Badan Litbang

82.7 %

86.31 %

84.3 %

74.6 %

17 %

11.19 %

% Kontribusi BPTP

39.22 %

60.33 %

31.51 %

40.48 %

12.3 %

5.51 %

Potensi lahan sawah di Provinsi Gorontalo adalah 28.254 ha.Dari potensi tersebut seluas 20.546 ha atau 73 % telah ditanami varietas unggul dari Badan Litbang Pertanian. BPTP Gorontalo cukup berperan dalam distribusi inovasi teknologi terutama komponen varietas unggul baru dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dengan memberikan kontribusi sebesar 11.331 ha atau 40,1% khususnya untuk varietas Mekongga, Tukad Balian, Cigeulis dan Inpari. Persentasi sebaran varietas Badan Litbang Pertanian di Provinsi Gorontalo terlihat pada tabel di atas.

  1. Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) BPTP Gorontalo telah dirintis sejak tahun 2006, namun dukungan dana/pembiayaan masih berasal dari Koperasi Pegawai Negeri BPTP Gorontalo, dan mulai TA 2011 telah dibuat Surat Keputusan (SK) pembentukan UPBS BPTP Gorontalo. Lahan BPTP Gorontalo yang dapat dimanfaatkan untuk UPBS seluas ± 4 ha untuk komoditas Padi Sawah. Sampai bulan Juni 2011 pemanfaatan lahan UPBS baru berkisar 1.5 ha dari dana APBN, sisanya ± 2.5 ha masih dikelola oleh Koperasi BPTP Gorontalo. Kedepan luas lahan sebesar ± 4 ha tersebut akan dimanfaatkan seluruhnya oleh UPBS. Varietas Unggul Baru Padi yang dikembangkan oleh UPBS adalah Inpari 3, 4, 6, 8, 10, 13, dan Tukad Balian. TA 2011 telah dibangun Gudang Benih UPBS dan lantai jemur guna mendukung pelaksanaan perbenihan BPTP Gorontalo. Total Produksi Benih Padi Tahun 2011 sebanyak 12,86 ton Varietas Inpari 3, 4, 7, 10 dan Inpari 13.  Hasil produksi benih ini didistribusikan untuk keperluan pendampingan SL-PTT berupa Display VUB, distribusi ke petani penangkar, dan PT Sang Hyang Seri.
  2. Pada tahun 2010 – 2014, BPTP Gorontalo akan lebih mengarahkan kegiatan-kegiatan pada : a). Pendampingan program strategis Kementerian Pertanian (SL-PTT, Gernas Kakao,Kawasan Hortikultura dan PSDS), b). Peningkatan indeks panen baik dilahan optimal maupun sub optimal, c). Pengembangan integrasi ternak dengan jagung, padi, dan kakao, d). Percepatan penyebarluasan VUB tanaman pangan dan hortikultura e). Meningkatkan penyebarluasan paket teknologi spesifik lokasi baik ke PPL, petani, institusi, atau stakeholder lainnya dalam bentuk tercetak ataupun dalam bentuk elektronik, f). Pengembangan inovasi dan penyebaran informasi teknologi pertanian g) Kegiatan penelitian dan pengkajianh). Pengembangan UPBS, Peningkatan Diversivikasi Pangan, M-KRPL (Model Kawasan Rumah Pangan Lestari),dan MP3MI (Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Melalui Inovasi).
  3. Untuk meningkatkan peran BPTP di Propinsi Gorontalo, dilakukan kerjasama program antara lain :a)Rancang Bangun dan Pengembangan Kawasan Hortikultura Provinsi Gorontalo bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (dilaksanakan 2011) b) Peningkatan Indeks Panen Padi dari 200  menjadi IP 300 di Kabupaten BoneBolangobekerjasama dengan Pemda Kabupaten Bone Bolango, c) Pengembangan benih jagung hibrida, bekerjasama dengan Pemda KabupatenGorontalo Utara, d). Pengembangan benih padi sawah inbrida, bekerjasama dengan PT. Shangyangseri dan Pemda Kabupaten Gorontalo.Pada TA 2011 telah dilaksanaan kerjasama penyusunan profil dan road map pengembangan kawasan hortikultura di Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Boalemo, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato berkerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo.
  4. Pada Tahun 2011 dilakukan Kajian pola dan faktor penentu distribusi penerapan inovasi pertanian spesifik lokasi di provinsi gorontalo. Hasil wawancara pada 120 petani responden di 4 Kabupaten lokasi penelitian  bahwa umumnya pola distribusi inovasi teknologi yang diinginkan petani responden adalah dari Balit komoditas ke BPTP, melalui PPL dan langsung ke petani. Disamping itu 37% petani responden juga memilih pola yang sudah ada sekarang (Balit-BPTP-Dinas/Bakorluh-BP4K/BP3K-Poktan-Petani) sebagai pola yang masih efektif saat ini. Sedangkan metode yang efektif menurut pendapat petani responden umumnya adalah melalui dempot (60%)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang

Jagung berperan penting dalam perekonomian nasional dengan berkembangnya industri pangan yang ditunjang oleh teknologi budi daya dan varietas unggul. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat, Indonesia mengimpor jagung hampir setiap tahun. Pada tahun 2000, impor jagung mencapai 1,26 juta ton (BPS 2005).

Selain untuk pengadaan pangan dan pakan, jagung juga banyak digunakan industri makanan, minuman, kimia, dan farmasi. Berdasarkan komposisi kimia dan kandungan nutrisi, jagung mempunyai prospek sebagai pangan dan bahan baku industri. Pemanfaatan jagung sebagai bahan baku industri akan memberi nilai tambah bagi usahatani komoditas tersebut. Jagung merupakan bahan baku industri pakan dan pangan serta sebagai makanan pokok di beberapa daerah di Indonesia. Dalam bentuk biji utuh, jagung dapat diolah misalnya menjadi tepung jagung, beras jagung, dan makanan ringan (pop corn dan jagung marning). Jagung dapat pula diproses menjadi minyak goreng, margarin, dan formula makanan. Pati jagung dapat digunakan sebagai bahan baku industri farmasi dan makanan seperti es krim, kue, dan minuman.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul budidaya tanaman jagung manis (Zea Mays Saccharata Sturt)

2.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai beriktu :
1.  Pembudidayaan jagung manis yang tidak benar bisa menimbulkan kerugian bagi petani ..

2.  Bagai mana cara budidaya tanaman  jagung manis (Zea mays Saccharata Sturt.) yang

dianjurkan?

1.3   Tujuan
Tujuan dari penulis melakukan penelitian ini  adalah agar  penulis dan pembaca bisa mengetahui bagaimana cara membudidayakan tanaman jagung manis yang benar

BAB II

KERANGKA PIKIR/TEORI

 

 

2.1 Morfologi Tanaman Jagung Manis

Tanaman jagung termasuk famili rumput-rumputan (graminae) dari subfamili myadeae. Dua famili yang berdekatan dengan jagung adalah teosinte dan tripsacum yang diduga merupakan asal dari tanaman jagung. Teosinte berasal dari Meksico dan Guatemala sebagai tumbuhan liar di daerah pertanaman jagung.

2.2 Sistim Perakaran

Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu (a) akar seminal, (b) akar adventif, dan (c) akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah dan pertumbuhan akar seminal akan berhenti pada fase V3. Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian set akar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus ke atas antara 7-10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal. Akar seminal hanya sedikit berperan dalam siklus hidup jagung. Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Bobot total akar jagung terdiri atas 52% akar adventif seminal dan 48% akar nodal. Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah. Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air

2.3 Batang dan daun

Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi tongkol yang produktif. Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan pusat batang (pith). Bundles vaskuler tertata dalamlingkaran konsentris dengan kepadatan bundles yang tinggi, dan lingkaran- lingkaran menuju perikarp dekat epidermis. Kepadatan bundles berkurang begitu mendekati pusat batang

Beberapa genotipe jagung memiliki antocyanin pada helai daunnya, yang bisa terdapat pada pinggir daun atau tulang daun. Intensitas warna antocyanin pada pelepah daun bervariasi, dari sangat lemah hingga sangat kuat.

2.4 Bunga

Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual. Selama proses perkembangan, primordia stamen pada axillary bunga tidak berkembang dan menjadi bunga betina. Demikian pula halnya primordia ginaecium pada apikal bunga, tidak berkembang dan menjadi bunga jantan (Palliwal 2000). Serbuk sari (pollen) adalah trinukleat. Pollen memiliki sel vegetatif, dua gamet jantan dan mengandung butiran-butiran pati. Dinding tebalnya terbentuk dari dua lapisan, exine dan intin, dan cukup keras. Karena adanya perbedaan perkembangan bunga pada spikelet jantan yang terletak di atas dan bawah dan ketidaksinkronan matangnya spike, maka pollen pecah secara kontinu dari tiap tassel dalam tempo seminggu atau lebih.

2.5 Tongkol dan biji

Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas. Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10- 16 baris biji yang jumlahnya selalu genap.

Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama, yaitu (a) pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air

2.6              Karakteristik Pati Jagung

Biji jagung mengandung pati 54,1-71,7%, sedangkan kandungan gulanya  2,6-12,0%. Karbohidrat pada jagung sebagian besar merupakan komponen pati, sedangkan komponen lainnya adalah pentosan, serat kasar, dekstrin, sukrosa, dan gula pereduksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KEGIATAN  BUDIDAYA JAGUNG MANIS

Kegiatan perbanyakan benih jagung yang dipraktikkan selama Prakerin di BPTP provinsi Gorontalo adalah :

3.1. Teknik Budi Daya

Sebelum dilakukan penanaman untuk perbanyakan benih jagung terlebih dahulu dilakukan :

  • Pemilihan Benih Sumber

Dalam pemilihan benih sumber yang perlu diperhatikan adalah unsur fisiologis (panen) ketahanan hama dan penyakit, kualitas dan potensi hasil.

  • Penanaman dan pemeliharaan

1. Pengolahan Tanah

Untuk mengolah tanah, tanah terlebih dahulu di cangkul atau dibajak 1 kali sedalam 15 – 20 Cm, Gulma dan sisa tanaman dibenamkan, tanah digaruh sampai rata minimum 1 minggu sebelum tanam. Untuk PH tanah yang baik berkisar antara 5,5 – ¬6,5 dan apabila PH tanah di bawah dari 5,5 cara penanggulangannya yaitu dengan memberikan kapur, dan apa bila tingkat keasamaan tanah tinggi cara penanggulangannya yaitu dengan cara memberikan belerang. Pengolahan tanah dilakukan 2 kali yaitu pengolahan tanah bongkahan dan penggemburan tanah dilakukan selama 2 minggu.

2. Cara Penanaman

Untuk penanaman benih jagung, tanah di tugal sedalam 3 – 5 Cm untuk jumlah biji dalam satu lobang 2 – 3 biji, jarak tanam yang telah digunakan yaitu 40 X 90 Cm. Tanaman jagung dapat tumbuh baik pada tanah rendah sampai dengan sedang. Tanah yang gembur dan subur, tekstur tanah lempung berdebu merupakan yang terbaik untuk pertumbuhannya.

3.2  Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk menambah kandungan unsur hara yang terkandung di dalam tanah, agar suatu tanaman menjadi subur, kualitas dan potensi hasil semakin meningkat.

a. Macam-macam pupuk yang diberikan

1. Pupuk Alam

Pupuk Alam Yaitu pupuk yang dihasilkan dari alam. Contohnya : pupuk kandang, pupuk kompos/pupuk hijau. Pemberian pupuk alam ini dilakukan atau diberikan pada saat sebelum penanaman, tempatnya diberikan di dalam lobang yang akan ditanamkan benih

2. Pupuk Buatan

Pupuk Buatan yaitu pupuk yang dihasilkan melalui proses tertentu/yang dihasilkan dari sebuh industri. Contohnya Pupuk Urea, Pupuk TSP, Pupuk KCL dan lain-lain.

3.3. Penyiangan

Di dalam melakukan penyiangan ada terdapat 2 macam, yaitu penyiangan pertama dilakukan pada minggu ke-3 setelah tanam. Kemudian dilanjutkan penyiangan kedua pada minggu ke-5 setelah tanam sekaligus dilakukan pembumbunan pada tanaman jagung. Penyiangan tersebut dilakukan dengan cara manual yaitu dengan cara menggunakan cangkul.

Tanah yang digunakan untuk pembumbunan harus tinggi supaya bila jagung sudah besar tidak mudah rebah/tumbang karena angin dan tanah habis terkena erosi. Selain itu juga pembumbunan berfungsi untuk mendekatkan unsur hara akar tanaman jagung.

3.4. Penyulaman

Penyulaman tanaman jagung dilakukan 7 hari setelah tanam, penyulaman dilakukan pada benih yang tidak tumbuh, atau tidak berkecambah. Penyulaman dilakukan guna keseragaman tanaman tetap terpelihara serta pupuk yang diberikan tetap bermanfaat dengan adanya tanaman baru tersebut. Cara penyulaman itu sendiri dilakukan dengan menugal ulang tiap titik lobang tanah awal yang tidak tumbuh tersebut.

3.5. Pengendalian Hama Penyakit

Setelah dilakukan penyiangan pada tanaman jagung kita juga harus menanggulangi hama penyakit dengan cara :

  • Pembersihan lingkungan
  • Pengamatan secara teratur
  • Penyemprotan dengan insektisida yang aktif
  • Pemberantasan hama secara teratur dan aman, bagi tanaman jagung.

Penyemprotan hama dilakukan setiap seminggu sekali, karena perkembangbiakan pada hama yang menyerang tanaman jagung, waktu pertumbuhan hama ialah 10 hari. Jadi, penyemprotan.hama tersebut dilakukan sebelum hama-hama tersebut menetas.

Secara umum Hama yang menyerang tanaman jagung adalah :

ü  Ulat Grayak (Spodoptera Sp)

ü  Ulat Tongkol (Heliothis Armigera)

ü  Ulat Pengerat (Dactylispa Balyi)

Tujuan dari pengendalian hama penyakit ialah menurunkan populasi hama sampai dengan populasinya tidak merugikan secara ekonomis dengan cara memutuskan siklus hidup organisme pengganggu tersebut.

Sedangkan penyakit yang menyerang pada tanaman jagung yaitu penyakit Bulai (Jamur Solerospora Maydis). Gejala penyakit ini ialah menyerang pada tanaman yang muda (14 – 21 Hst). Ciri-cirinya : Daunnya menguning, menjadi kaku, runcing dan permukaan bawah daun terdapat lapisan tepung berwarna putih (Spora Jamur). Cara pengendaliannya yaitu dengan cara mencabut batang jagung yang terserang penyakit Bulai .

3.6. Pengairan

Dalam suatu lahan tanaman pengairan sangat dibutuhkan, karena untuk mempermudah perkecambahan biji dan kebutuhan air ini banyak digunakan saat tanaman jagung mulai berbunga sampai berbuah. Tanaman jagung pada waktu pembungaan dan pembentukan malai atau tongkol apabila terjadi kekurangan air akan mengakibatkan layunya daun selama 1 – 2 hari. Sehingga dapat menurunkan hasil sampai 22 % sedangkan bila layunya daun selama 5 – 8 hari dapat menurunkan hasil sampai 50 %.

 

3.7. Pemangkasan Bunga Jagung

Tujuan Pemangkasan bunga jagung yaitu :

ü  Agar dapat mempercepat keringnya buah jagung

ü  Agar dapat mencegah terjadinya jamur

ü  Agar dapat menuakan buah jagung

ü  Supaya memudahkan dalam sortasi buah untuk benih

3.8  Kegiatan

v  Didalam kegiatan Prakerin di BPTP provinsi GORONTALO ini terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan yaitu :

v  Persiapan Lahan

  • kegiatan tersebut adalah menebas rumput-rumput yang tumbuh di lingkungan lahan jagung yang akan di tanam serta membersihkan sekitaran lahan jagung, parit-parit, perbaikan terasering menggemburkan tanah dengan Hand Tractor.

v  Penanaman

  • Untuk penanaman benih jagung, tanah di tugal sedalam 3 – 5 Cm untuk jumlah biji dalam satu lubang 2 – 3 biji, jarak tanam yang telah digunakan yaitu 40 X 90 Cm.

v  Penyisipan

Penyisipan adalah penanaman kembali bibit jagung yang tidak tumbuh dan dilakukan pada saat bibit umur 1 minggu setelah tanam.

v  Pemupukan

Pupuk yang digunakan dalam menanam jagung ada 2 jenis pupuk yaitu :

  • Pupuk alam
  • Pupuk alam didalam pertanian sering dinamakan pupuk kandang atau kompos
  • Pupuk buatan
  • Pupuk buatan adalah pupuk yang sudah diolah oleh manusia dan sudah diberikan campuran kimia, misalnya pupuk Urea,

v  Penyiangan dan Pembumbunan

Penyiangan lahan jagung ada 2 tahap yaitu :

  • Tahap Pertama dilakukan pada minggu ke tiga
  • Tahap Kedua pada minggu ke lima setelah tanam sekaligus pembumbunan. Penyiangan menggunakan cangkul yang disiang adalah rumput yang tumbuh dilahan jagung bukan di daratan tanaman karena umur jagung dan ketahanan jagung tersebut masih lemah/rentan patah. Dan pembumbunan dilakukan dengan cara mendekatkan tanah pada akar tanaman supaya akar tidak mudah rebah dan sekaligus mendekatkan unsur hara.

v  Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara rutin yaitu pembersihan lingkungan, pengamatan secara teratur dan penyemprotan dengan insektisida yang efektif. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali karena perkembangbiakan hama pada tanaman jagung semakin .

v  Panen

Jagung siap dipanen apabila dilihat dari klobotnya berwarna coklat muda dan kering serta bijinya mengkilat, dan cara lainnya yang dapat dilakukan adalah menekan dengan kuku apabila tidak berbekas maka jagungnya sudah siap panen (kadar air 35 – 40 %).

v  Pasca Panen

Perlakuan hasil panen untuk benih dengan cara dikupas tongkolnya, di seleksi dan selanjutnya dikeringkan sampai kadar air 18 %. Kemudian dipipil dan dikeringkan lagi sampai kadar air 12 %. Jika menggunakan mesin pengering benih (Seed dryer) benih jagung yang masih berkadar air masih relatif tinggi yang dikeringkan pada suhu 30 – 35°C.

v  Perlakuan dan Pengemasan

Perlakuan benih jagung dilakukan terutama untuk melindungi benih dari serangan penyakit yang terdapat didalam tanah .bila belum ditanam perlakuan benih dilakukan dengan pencampuran fungisida ridomil dengan dosis 5 Gram/1 Kg benih. Sebelum dicampur dengan benih, ridomil diberi air hingga membentuk pasta. Jumlah air yang diberikan tidak melebihi batas yang dianjurkan karena dapat meningkatkan kadar air benih dan menurunkan daya simpan serta daya tumbuh benih.

Benih yang telah diberikan perlakuan fungisida, selanjutnya dikemas dengan kemasan yang telah disediakan dan dipasang label sertifikasi dari BPSB.

BAB IV

PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

Dari hasil kegiatan yang saya lakukan selama PKL (praktek kerja lapangan )saya dapat menarik kesimpulan  bahwa :

  1. Kebutuhan konsumsi jagung di Indonesia terus meningkat di sebabkan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia
  2. Jagung dapat di olah kembali menjadi bahan olahan seperti minyak goring ,tepung maizena,asam organik,makanan kecil dan industry pakan ternak

4.2 Saran

  1. Pada saat melakukan budidaya tanaman jagung sebaiknya di perhatikan dengan baik .petani jagung dulu memikirkan harga atau nilai nominal yang keluar dari perawatan jagung karena jika hasil budidaya baik maka petani akan mendapatkan keuntungan

Kerena jagung juga dapat di olah menjadi bahan baku industri lain sehingga keuntungan yang di dapat petani lebih tinggi lagi.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  • Fergason, V. 1994. High amylose and waxy corn. In: A. R. Halleuer (Ed.) Specialty Corns. CRC Press Inc. USA.
  • Hardman and Gunsolus. 1998. Corn growth and development. Extension Service. University of Minesota. p.5.
  • Lambert, R.J. 1994. High oil corn hybrids. In: Arnel R. Halleuer (Ed.). Specialty corns. CRC Press Inc. USA.
  • Lee, C. 2007. Corn growth and development. http://www.uky.edu/ag/grain crops.
  • McWilliams, D.A., D.R. Berglund, and G.J. Endres. 1999. Corn growth and management quick guide.www.ag.ndsu.edu.
  • Paliwal. R.L. 2000. Tropical maize morphology. In: tropical maize: improvement and production. Food and Agriculture Organization of the United Nations. Rome. p 13-20.
  • Smith, M.E., C.A. Miles, and J. van Beem. 1995. Genetic improvement of maize for nitrogen use efficiency. In Maize research for stress environment. p. 39-43.
  • Syafruddin. 2002. Tolok ukur dan konsentrasi Al untuk penapisan tanaman jagung terhadap ketenggangan Al. Berita Puslitbangtan 24: 3-4.
  • Tracy, W. F. 1994. Sweet corn. In: A. R. Halleuer (Ed.) Specialty corns. CRC Press Inc. USA.
  • Vasal, S.K. 1994. High quality protein corn. In: A. R. Halleuer (Ed.). Specialty corns. CRC Press Inc. USA.
  • White, P.J. 1994. Properties of corn strach. In: A. R. Halleuer (Ed.). Specialty corns. CRC Press Inc. USA.
Posted in Uncategorized